Masihkah perempuan karir terjebak oleh “glass ceiling” ?

Oleh. Ambarini

Hambatan bagi perempuan dalam karir untuk mencapai posisi teratas dikenal sebagai langit-langit kaca atau glassceiling. Seolah-olah untuk mencapai karir yang lebih tinggi, perempuan harus bekerja lebih keras daripada rekan kerjanya yang pria. Apa yang menyebabkan munculnya langit-langit kaca? Apakah langit-langit kaca berasal dari lingkungan kerja yang kurang mendukung keberadaan dan tidak memihak perempuan? Atau karena perilaku dan lingkungan ydi sekitar perempuan itu sendiri?

Banyak hal yang membuat karir dari perempuan karir hanya berjalan di tempat saja.  Dari lingkungan kerja, kadang-kadang ditemukan kebijakan perusahaan yang tidak memihak kepada perempuan. Ada banyak prosedur manajemen sumber daya manusia yang mendiskriminasikan perempuan, misalnya banyak kasus di mana pekerja perempuan mendapat upah lebih rendah dari pekerja laki-laki dengan tingkat kemampuan yang sama. Terkadang banyak diskriminasi juga terjadi dengan tidak melibatkan pekerja perempuan dalam tugas-tugas strategis karena diragukan kemampuannya. Banyak juga perusahaan yang lebih memilih untuk menaruh karyawan perempuannya di lingkup-lingkup kerja administrasi saja. Lalu bagaimana para perempuan itu bisa sukses jika tidak diberikan kesempatan?

Kabar baiknya adalah dalam beberapa kasus seiring dengan kesadaran  gender yang meningkat di kalangan masyarakat, juga diikuti oleh banyak perusahaan yang telah membuka peluang bagi perempuan untuk eksis sampai posisi puncak. Banyak perempuan Indonesia telah dan terus menunjukkan peran mereka dalam karir mereka masing-masing. Walaupun  jumlah perempuan yang menduduki posisi teratas belum terlalu banyak, tapi sudah ada perkembangan menggembirakan dalam arah itu

Namun dalam kenyataannya, terkadang sulit untuk dicapai karena langit-langit kaca ini tetap membayangi dan menjadi penghalang yang sangat kuat bagi mereka. Kasus ini disebabkan oleh sifat perempuan yang tidak bisa dipungkiri,  memiliki karakteristik fisik dan psikologis tersendiri yang berbeda dengan laki-laki. Sehingga kita dapat mengatakan bahwa dalam prakteknya hambatan bagi perempuan karir tidak selalu muncul dari lingkungan kerja sendiri. Banyak perempuan yang masih merasa kurang percaya diri dalam kemampuan dirinya sendiri, tidak berani membuat keputusan, dan dibayangi oleh tanggung jawab domestik. Inilah yang membuat perempuan merasa tidak memadai dan akhirnya tidak percaya untuk menjadi pemimpin. Bagaimana bisa dipercaya menjadi pemimpin, jika tidak memiliki rasa percaya diri yang tinggi ?

Tanggung jawab sebagai ibu rumah tangga seringkali terus menghantui ibu rumah tangga  yang juga  memilih berkarir di luar rumah. Ketika seorang Ibu rumah tangga juga memilih bekerja di luar rumah,  maka  secara otomatis mereka akan memiliki peran ganda. Beban peran ganda ini mempengaruhi komitmen karir perempuan lebih rendah daripada pria. Dengan peran ganda, perempuan yang bekerja harus memiliki kapasitas ekstra untuk manajemen waktu dan menjadi seorang perencana yang baik.

Banyak perempuan yang bekerja yang juga harus memikirkan tanggung jawab rumah tangga, seperti menyiapkan makanan untuk keluarganya, memastikan anak-anak mereka berada di lingkungan yang aman ketika mereka  bekerja. Atau bayangkan ketika seorang anak mengalami  sakit, maka  otomatis fokus perempuan yang bekerja akan  terbagi antara pemikiran anak-anak yang sakit dan pekerjaan kantor akan selesai. Beberapa dari itu adalah contoh sederhana yang sering terjadi dan harus dihadapi oleh perempuan, khususnya perempuan yang memiliki keluarga yang juga memiliki karir di luar rumah mereka. Terkadang banyak waktu produktif perempuan bekerja yang sering dikonsumsi oleh masalah dalam negeri, hal itu mempengaruhi mereka tidak memiliki waktu sepenuhnya untuk bisa bersaing dengan laki-laki.

Ada juga banyak perempuan bekerja  yang mencoba untuk memprioritaskan dan fokus serta total pada pekerjaan mereka. Namun biasanya mereka mendapatkan tantangan yang cukup berat dan harus banyak ber”konsekwensi” terhadap hal-hal tertentu. Mereka juga terkadang membutuhkan banyak dukungan dan toleransi  dari keluarga dan orang-orang terdekat di sekitar mereka.

Motivasi yang mendasari perempuan bekerja juga bisa menjadi faktor apakah perempuan bisa mengembangkan karir mereka atau tidak. Ada perempuan yang bekerja karena mereka memiliki mimpi yang mereka ingin capai dalam ambisi karir mereka. Bagi perempuan yang melakukan pekerjaan karena ingin karier, biasanya mereka akan fokus pada pekerjaan mereka, dan mereka mampu mencapai posisi yang tinggi. Para perempuan ini akan menghadapi semua hambatan yang datang baik dari dalam dan dari luar diri mereka. Para perempuan  ini juga terus mengembangkan diri dan mengambil semua kesempatan yang datang kepada mereka.

Lingkungan keluarga yang membentuk pribadi perempuan yang bekerja juga akan memiliki pengaruh pada pembentukan pribadi seorang perempuan. Banyak perempuan karir yang tumbuh dengan tingkat kepercayaan yang tinggi karena mereka mendapatkan kesempatan untuk selalu tumbuh dan dukungan dari lingkungan sekitar sejak dari masa kecilnya. Ursula M. Burns adalah tonggak sejarah. Dia tidak hanya perempuan kulit hitam yang menduduki kursi pertama dari CEO di sebuah perusahaan Fortune 500, tetapi juga CEO wanita pertama Xerox Corporation. Kunci kesuksesannya berasal dari ibunya, karena  sejak kecil ia dibesarkan Ibunya  selalu mengingatkan dirinya dari tanggung jawab, menekankan pentingnya keberhasilan dan menjadi orang yang baik dengan semua kemampuan dalam dirinya.

Hal lain yang juga merupakan faktor bagi munculnya langit-langit kaca pada pekerjaan perempuan adalah budaya sosial. Terutama di banyak negara di Asia dan untuk masyarakat yang memegang kiprah budaya patriarkal perempuan yang bekerja di luar rumah selalu dipertanyakan. Perempuan sering dianggap sebagai “pelengkap” (posisi kedua) dalam berbagai kegiatan dan hubungan sosial. Sulit untuk memaafkan dan menerima  Perempuan menjadi pemimpin, terutama di bidang pekerjaan yang umumnya di pegang oleh laki-laki. Pandangan sinis dan merendahkan tokoh perempuan sering muncul. Perempuan dianggap hanya bisa menganggap mengurus masalah administrasi domestik saja.

Dengan beberapa pemaparan diatas, perempuan yang telah berkomitmen untuk bekerja dan menginginkan karir yang tinggi  harus sadar dengan semua kendala tersebut. Hambatan-hambatan tersebut tidak hanya datang dari dalam kebijakan perusahaan tetapi juga dari karakteristik dan lingkungan disekitar perempuan tersebut. Bagaimana seorang perempuan dapat mentolerir dan beradaptasi dengan semua hambatan ini, maka pasti wanita akan sukses dalam karier dan mampu menerobos langit-langit kaca. Dan akhirnya kita bisa tersenyum dan mengatakan bahwa Glass ceiling will not be exist anymore.. 

This entry was posted in Wanita & Karir and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s