Memicu rasa frustasi seorang “pemimpin”

Oleh. A. Ambarini

frustration-woman1“Seorang pemimpin juga manusia lho🙂 “… mereka bisa frustasi juga terhadap hal-hal yang mereka hadapi .. coba yukk kita tengok apa saja yang kira-kira bisa memicu rasa frustasi seorang pemimpin..

Ada satu dari sekitar 10 orang di suatu kantor yang di identifikasikan sebagai seorang pemimpin’ entah itu manager atau seorang supervisor atau mungkin pemimpin yang memang terpilih dengan sendirinya dalam suatu komunitas. Banyak orang yang dihinggapi perasaan takut menjadi seorang pemimpin karena mengetahui bahwa menjadi seorang pemimpin tidaklah mudah. Seorang pemimpin harus siap menghadapi hal-hal yang bisa memicu rasa frustasi bagi pemimpin itu sendiri. Berikut beberapa perasaan-perasaan frustasi seorang pemimpin yang mungkin saja datang;

1. Terlalu banyak waktu yang harus di dedikasikan untuk pekerjaan
Seseorang yang memegang posisi sebagai pemimpin terkadang mau tidak mau harus bekerja lebih banyak dari “karyawan” biasa. Ia harus rela meluangkan waktunya untuk kepentingan orang banyak atau tugasnya. Walaupun seorang pemimpin tidak selalu mengerjakan kerja fisik namun otaknya selalu berputar menyelesaikan masalah-masalah, mencari solusi, memikirkan inovasi baru dan sebagainya. Bahkan tak jarang di hari yang seharusnya hari libur atau hari untuk keluarga, seorang pemimpin harus rela meluangkan waktunya untuk kepentingan tugasnya.

2. Terlalu banyak masalah yang menimbulkan pusing kepala
Terkadang diperlukan beberapa halaman untuk menuliskan dengan lengkap masalah-masalah yang harus ditangani seorang pemimpin. Tak jarang seorang pemimpin selalu dihubungkan atau menjadi subjek penyelesaian suatu masalah. Hal ini memicu bahwa posisi manager sebagai seorang pemimpin juga akan mengakibatkan stress dan pengalaman yang mengerikan bagi para pemimpin itu. Hanya seseorang yang berani berpetualang dan mengambil resiko serta mempunyai jiwa kepemimpinan yang siap mengambil posisi sebagai seorang pemimpin ini.

3. Tidak cukup kekuasaan untuk mengambil langkah-langkah penyelesaian suatu tanggung jawab.
Seorang pemimpin yang berada di level managemen tak jarang mengeluh bahwa mereka harus memegang tanggung jawab yang tidak dapat mereka kontrol. Hal ini karena tidak ada “kekuasaan” penuh untuk menyelesaikan tanggung jawab tersebut. Anggaplah sebagai contoh, seorang manager diharapkan menghasilkan kualitas pelayanan prima tetapi hanya diberikan fasilitas seadanya dan staff yang terbatas jumlahnya.

4. Perasaan “lonely”
Semakin tinggi posisi seseorang sebagai pemimpin, maka semakin sering muncul perasaan “lonely” di beberapa kesempatan tertentu.Terkadang sebagai seorang pemimpin ada batasan yang dibuat untuk menganalisa rasa percaya atau tidak percaya terhadap orang lain. Seorang pemimpin juga harus bisa menempatkan posisi dan berhati-hati dalam setiap ucapan dan tanggapan yang dibuatnya yang harus mewakili citra dari perusahaan. Terkadang orang yang berada di posisi pemimpin “kehilangan” waktu-waktu “fun” nya bersama teman-temannya ataupun karyawannya.

5. Terlalu banyak masalah yang melibatkan hubungan antar manusia
Salah satu masalah yang mengakibatkan frustasi seorang pemimpin adalah masalah-masalah yang melibatkan hubungan atau mengkoordinasikan “manusia”.
Tetapi dalam hal ini sepertinya semakin rendah posisi”kepempimpinan” maka semakin sering pula dihadapkan masalah-masalah penyelesaian hubungan antara manusia, misalnya saja pengawas kantor harus berhadapan langsung dengan permasalahan karyawan yang bermacam-macam dibandingkan seorang “Chief executive officer”.

6. Menghadapi politik kantor/organisasi
Sudah umum didalam organisasi kita mengenal politik kantor. Ada yang terang-terangan ada juga yang tertutup dijalankan. Sebagai seorang pemimpin dalam suatu organisasi, terkadang kita mengetahui politik-politik tersebut dan dengan tujuan “tertentu” kita wajib menjalankannya. Sebagai seorang pemimpin harus bisa memainkan taktik-taktik dalam melakukan politik kantor ini. Dan terkadang hal ini bertentangan dengan hati nurani seorang pemimpim.

7. Penyelesaian konflik-konflik
Bagaimana menengahi dan menyelesaikan konflik-konflik yang terjadi di organisasi menjadi “concern” seorang pemimpin. Entah seorang pemimpin harus terjun langsung dalam penyelesaian konflik atau mengkoordinasikan dengan bagian lainnya. Seorang pemimpin harus memiliki manajemen konflik yang baik. Penyelesaian konflik yang berlarut-larut juga akan membawa rasa putus asa dan frustasi bagi seorang pemimpin.


Berita bisa di baca juga di Harian Online Kabar Indonesia :
http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=20&jd=Rasa+Frustasi+Seorang+Pemimpin&dn=20090427180823#

This entry was posted in Leadership and tagged . Bookmark the permalink.

2 Responses to Memicu rasa frustasi seorang “pemimpin”

  1. Angel says:

    Hi Ayu, this interesting once
    Great

    _@ngel

  2. ambarini says:

    Thanks Angel

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s