Dalam perkembangannya kecerdasan intelektual (IQ) tidak selalu menjamin seorang bisa menjadi seorang pemimpin yang baik. Nilai IQ tinggi tidak menggiring seseorang akan menjadi seorang pemimpin yang disegani. Kecerdasan intelektual memang diperlukan seorang pemimpin untuk menangkap gagasan-gagasan yang muncul, dan mencari pemecahan masalah secara logis, serta melahirkan ide-ide segar yang inovatif dan berbeda.
Namun pada saat pengimplementasian sebuah rencana, menganalisa sebuah masalah juga dibutuhkan kecerdasan emosional (EQ). Pemimpin juga perlu mengendalikan dan memainkan emosinya didalam menghadapi orang lain dan kelompok-kelompok yang berhubungan. Dalam pola relasi hubungan juga diperlukan empati seorang pemimpin untuk melihat permasalahan bukan dari kacamata dirinya saja.
Untuk bisa menarik keputusan terbaik sesuai etika kejujuran dan kebenaran, pemimpin juga membutuhkan kecerdasan spiritual (SQ). Seorang pemimpin harus paham dan mengenal dirinya sebagai mahluk spiritual dan bagian dari alam semesta ini. Pemimpin harus menyadari bahwa dibutuhkan juga pertanggungjawaban di hadapan Tuhan YME nantinya.
Salah satu contoh dalam praktek, kecerdasan IQ akan menjelaskan bahwa praktek korupsi itu tidak baik, namun ingin mencari kepuasan yang tinggi – emosi meletup-letup untuk memiliki harta lebih dan akhirnya kecerdasan spirituallah yang akan mengendalikan keinginan dan emosi tersebut.
Rasanya sinergitas antara IQ – EQ dan SQ dibutuhkan oleh para pemimpin bangsa ini. Tentunya sinergitas yang benar-benar di wujudkan dan dunia nyata, dan bukan hanya di bibir saja atau dielu-elukan di hadapan media belaka.